BAB I
PENDAHULUAN
11
Latar Belakang
Berbagai kebutuhan hidup yang tidak
terbatas dan kemampuan yang terbataslah yang mendorong manusia untuk
berhubungan dengan manusia lainnya. Hal ini diperkuat dengan pendapat, bahwa
manusia merupakan mahluk social. Sejalan dengan tingkat kematangan (keinginan
dan kemampuannya), hubungan tersebut terus bergerak dinamis dimuali dari
tingkat yang sederhana, hingga tingkat hubungan yang modern. Sebuah organisasi
adalah pola hubungan banyak yang saling terjalin secara simultan yang
menjadi jalan bagi orang, dengan pengarahan dari manajer, untuk
mencapai sasaran bersama.
Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen. Organisasi
identik dengan sekelompok Individu yang terstruktur dan sistematis yang berada
dalam sebuah sistem. pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan
penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan
lingkungannya. Dengan hasil pengorganisasian adalah struktur organisasi.
Pengorganisasian merupakan fungsi
manajemen yang juga mempunyai peranan penting seperti halnya fungsi perecanaan.
Melalui fungsi pengorganisasian, seluruh sumber daya yang di miliki oleh
organisasi (manusia dan bukan manusia) akan diatur penggunanya secara efektif
dan efesien untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Organisasi sering di jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga organisasi
merupakan suatu hal yang penting yang harus di pelajari dengan baik. Contohnya
jika kita bekerja pada sebuah perusahaan, kita kan melakukan suatu organisasi.
Oleh sebab itu kita harus mengetahui apa yang dimaksud dari organisasi,
fungsinya dan apa manfaatnya.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari Pengorganisasian
dan Organisasi?
2. Apa saja Unsur-unsur
Pengorganisasian?
3. Teori-teori Organisasi!
4. Apa saja Asas-asas atau
Prinsip-prinsip Organisasi?
5. Bagaimana Bentuk-bentuk Organisasi?
6. Struktur Organisasi!
7. Bagaimana Pola-pola
Pengorganisasian?
8. Bagaimana Proses atau
Langkah-langkah Pengorganisasian?
9. Perilaku Organisasi!
1 Apa saja Fungsi-fungsi Pengorganisasian?
11. Apa Tujuan dari Pengorganisasian?
12. Apa Manfaat Pengorganisasian?
1.3
Tujuan
Dari rumusan masalah diatas dapat di
ambil tujuan yaitu, untuk mengetahui bagian-bagian dalam Pengorganisasian atau
sub-sub bab dalam Pengorganisasian (definisi, unsur, teori, asas atau prinsip,
bentuk, sruktur, pola, langkah atau proses, perilaku, fungsi, tujuan, dan
manfaat) yang sangat berpengaruh dalam Pengorganisasian.
1.4
Batasan Masalah
Hal yang dibahas dalam makalah ini
hanya bagian-bagian atau sub bab yang terdapat dalam Pengorganisasian
(definisi, unsur, teori, asas atau prinsip, bentuk, sruktur, pola, langkah atau
proses, perilaku, fungsi, tujuan, dan manfaat).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Organisasi dan Pengorganisasian
Secara konseptual ada dua batasan yang perlu dikemukakan, yakni istilah
“organization” sebagai kata benda dan “organizing” (pengorganisasian) sebagai
kata kerja, menunjukkan pada rangkaian aktivitas yang harus dilakukan secara
sistematis.
Istilah organisasi memiliki dua arti umum, pertama, mengacu pada suatu lembaga
(institution) atau kelompok fungsional, sebagai contoh kita mengacu pada
perusahaan, badan pemerintah, rumah sakit, atau suatu perkumpulan olahraga.
Arti kedua mengacu pada proses pengorganisasian, sebagai salah satu dari fungsi
manajemen.
Menurut Drs. M. Manullang Organisasi dalam arti dinamis disebut
pengorganisasian, dan dalam arti statis disebut organisasi.
2.1.1
Pengertian Organisasi
2.1.1.1
Pengertian Menurut Ahli
a. Menurut Stoner: Organisasi adalah
suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan
manajer mengejar tujuan bersama.
b. Menurut James D. Mooney: Organisasi
adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
c. Menurut Chester I. Bernard:
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua
orang atau lebih.
d. Menurut Prof. Dr. Sondang P.
Siagian: Organisasi adalah suatu bentuk persekutuan antara dua orang
atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditentukan dan dalam ikatan itu terdapat
seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan.
e. Menurut Prof. Dr. Mr. S. Pradjudi
Atmosudiro: Organisasi adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur
tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerja
sama secara tertentu untuk bersamasama mencapai suatu tujuan tertentu.
2.1.1.2
Pengertian Organisasi Secara Umum
Organisasi merupakan
sekumpulan/sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan
untuk bekerjasama dengan pembagian atau alokasi tugas dan tanggung jawab
tertentu dalam system koordinasi, kooperatif, dorongan-dorongan, dan pengaturan
guna memudahkan pencapaian beberapa tujuan yang telah ditetapkan.
2.1.2
Pengertian Pengorganisasian
2.1.2.1
Pengertian Menurut Ahli
a. Menurut G. R Terry: pengorganisasian
berasal dari kata organism (organisme) yang merupakan sebuah eititas dengan
bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan mereka satu
sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka terhadap keseluruhan.
b. Menurut Siagian (1983): Pengorganisasianadalah
keseluruhan pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas, tugas,kewenangan dan
tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatuorganisasi yang dapat
digerakkan sebagai suatu kegiatan kesatuan yang telah ditetapkan.
c. Drs.H. Malayu S. P. Hasibuan: adalah
suatu proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktifitas
yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang - orang pada setiap
aktifitas ini, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang
secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan
aktifitas-aktifitas tersebut.
d. Kamus lengkap bahasa indonesia:
Pengorganisasian adalah merupakan kegiatan merancang dan merumuskan struktur.
2.1.2.2
Pengertian Pengorganisasi Secara Umum
Pengorganisasian adalah langkah
untuk merancang struktur formal, menetapkan, menggolongkan dan mengatur bebagai
macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok, wewenang dan pendelegasian
wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam rangka mencapai tujuan organisasi
dengan efisien.
2.2
Unsur-unsur Pengorganisasian
Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu ada orang, ada kerjasama,
dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri
sendiri-sendiri, akan tetapi saling kait atau saling berhubungan sehingga
merupakan suatu kesatuan yang utuh. Adapun unsur-unsur organisasi secara
terperinci adalah:
a. Man (orang-orang), dalam kehidupan organisasi atau
ketata lembagaan sering disebut dengan istilah pegawai atau personnel. Pegawai
atau personnel terdiri dari semua anggota atau warga organisasi, yang menurut
fungsi dan tingkatannya terdiri dari unsur pimpinan (administrator) sebagai
unsur pimpinan tertinggi dalam organisasi, para manajer yang memimpin suatu
unit satuan kerja sesuai dengan fungsinya masing-masing dan para pekerja (non
management/workers). Semua itu secara bersama-sama merupakan kekuatan manusiawi
(man power) organisasi.
b. Kerjasama,
merupakan suatu perbuatan bantu-membantu akan suatu perbuatan yang dilakukan
secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, semua
anggota atau semua warga yang menurut tingkatan-tingkatannya dibedakan menjadi
administrator, manajer, dan pekerja (workers), secara bersama-sama merupakan
kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
c. Tujuan,
merupakan arah atau sasaran yang dicapai. Tujuan menggambarkan tentang apa yang
akan dicapai atau yang diharapkan. Tujuan merupakan titik akhir tentang apa
yang harus dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tentang apa yang harus dicapai
melalui prosedur, program, pola (network), kebijaksanaan (policy), strategi,
anggaran (budgeting), dan peraturan-peraturan (regulation) yang telah
ditetapkan.
d. Peralatan
(Equipment), merupakan Unsur yang keempat yaitu peralatan atau equipment yang
terdiri dari semua sarana, berupa materi, mesin-mesin, uang, dan barang modal
lainnya (tanah, gedung/bangunan/kantor).
e. Lingkungan
(Environment), Faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya, ekonomi, dan
teknologi.
f. Kekayaan
Alam, Yang termasuk dalam kekayaan alam ini misalnya keadaan iklim, udara, air,
cuaca (geografi, hidrografi, geologi, klimatologi), flora dan fauna.
2.3
Teori-teori Organisasi
Teori organisasi adalah suatu konsepsi, pandangan, tinjauan, ajaran, pendapat
atau pendekatan tentang pemecahan masalah organisasi sehingga dapat lebih
berhasil bahkan pada gilirannya organisasi dapat mencapai sasaran yang
ditetapkan, adapun yang dimaksud masalah itu sendiri adalah segala sesuatu yang
memerlukan pemecahan dan pengambilan keputusan.
Ada 9 macam teori organisasi yaitu teori organisasi klasik, teori organisasi
birokrasi, teori organisasi human relations, teori organisasi perilaku, teori
proses, teori organisasi kepemimpinan, teori organisasi fungsi, teori
organisasi pembuatan keputusan dan teori organisasi kontingensi. Namun,
Perkembangan teori-teori organisasi yang dilihat dan dikaji sejak tahun-tahun
pertama abad kedua puluh secara garis besar dapat diikhtisarkan menjadi 4
(empat) kelompok besar teori yakni klasik, perilaku, system, dan kontingensi.
1. Teori Organisasi Klasik. Teori ini biasa disebut dengan
“teori tradisional” atau disebut juga “teori mesin”. Berkembang mulai 1800-an
(abad 19). Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang
tersentralisasi dan tugas-tugasnnya terspesialisasi serta memberikan petunjuk
mekanistik structural yang kaku tidak mengandung kreatifitas.
2. Teori Human Relations. Teori ini disebut juga teori
neoklasik, teori hubungan kemanusiaan, teori hubungan antara manusia, teori
hubungan kerja kemanusiaaan atau the human relations theory. Teori ini muncul
akibat ketidak puasan dengan teori klasik dan teori ini merupakan penyempurnaan
teori klasik. Teori ini menekankan pada “pentingnya aspek psikologis dan social
karyawan sebagai individu ataupun kelompok kerja”. Suatu hubungan dikatakan
hubungan kemanusiaan apabila hubungan tersebut sudah dapat memberikan kesadaran
dan pengertian sehingga pihak lain merasa puas.
3. Teori Organisasi Perilaku. Teori ini merupakan suatu teori
yang memandang organisasi dari segi perilaku anggota organisasi. Teori ini
berpendapat bahwa baik atau tidaknya, berhasil tidaknya organisasi mencapai
sasaran yang telah ditetapkan berasal dari para anggotanya.
4. Teori Birokrasi. Pada dasamya teori
organisasi birokrasi menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan, organisasi harus
menjalankan strategi sebagai berikut:
a. Pembagian dan penugasan pekerjaan
secara khusus.
b. Prinsip hierarki atau bawahan hanya
bertanggung jawab kepada atasannya langsung.
c. Promosi didasarkan pada masa kerja
dan prestasi kerja, dan dilindungi dari pemberhentian sewenang-wenang dan yang
demikian disebut prinsip loyalitas.
d. Setiap pekerjaan dilaksanakan secara
tidak memandang bulu, tidak membeda-bedakkan status sosial, tidak pilih kasih.
Strategi ini dinamakan prinsip impersonal.
e. Tiap-tiap tugas dan pekerjaan dalam
organisasi dilaksanakan menurut suatu sistem tertentu berdasarkan kepada data
peraturan yang abstrak. Strategi ini dinamakan prinsip uniformitas.
5. Teori Organisasi Proses. Teori ini
merupakan suatu teori yang memandang organisasi sebagai proses kerjasama antara
kelompok orang yang tergabung dalam suatu kelompok formal. Teori ini memandang
organisasi dalam arti dinamis, selalu bergerak dan didalamnya terdapat
pembagian tugas dan prinsip-prinsip yang bersifat umum (Universal).
6. Teori Organisasi Kepemimpinan. Teori
ini beranggapan bahwa berhasil tidaknya organisasi mencapai tujuan tergantung
sampai seberapa jauh seorang pemimpin mampu mempengaruhi para bawahan sehingga
mereka mampu bekerja dengan semangat yang tinggi dan tujuan organisasi dapat
dicapai secara efisien dan efektif, adapun sedikitnya kajian atas teori
organisasi yang berhubungan dengan masalah kepemimpinan dapat dibedakan atas:
a. Teori Otokratis
b. Teori Demokrasi
c. Teori Kebebasan (Teory laissez
fairre)
d. Teori Petnernalisme
e. Teori Personal atau Pribadi
f. Teori Non-Personal
7. Teori Organisai Fungsi. Fungsi
adalah sekelompok tugas atau kegiatan yang harus dijalankan oleh seseorang yang
mempunyai kedudukan sebagai pemimpin atau manager guna mencapai tujuan
organisasi. Sekelompok kegiatan yang menjadi fungsi seorang pemimpin atau
manager terdiri dari kegiatan menyusun perencanaan (Planning), pengorganisasian
(Organizing), pemberian motifasi atau bimbingan (Motivating), pengawasan
(Controlling), dan pengambilan keputusan (Decision making).
8. Teori Pengambilan Keputusan. Teori ini berlandaskan pada
adanya berbagai keputusan yang dibuat oleh para pejabat disetiap tingkatan,
baik keputusan di tingkat puncak yang memuat ketentuan pokok atau kebijaksanaan
umum, keputusan di tingkat menengah yang memuat program-progam untuk
melaksanakan keputusan adminitratif, maupun keputusan di tingkat bawah.
9. Teori Kontingensi (Teori Kepentingan). Teori ini
berlandaskan pada pemikiran bahwa pengelolaan organisasi dapat berjalan dengan
baik dan lancar apabila pemimpin organisasi mampu memperhatikan dan memecahkan
situasi tertentu yang sedang dihadapi dan setiap situasi harus dianalisis
sendiri.
Dari semua teori ini, tidak satu teori pun yang dianggap paling lengkap atau
paling sempurna, teori-teori itu satu sama lain saling mengisi dan saling
melengkapi. Teori dianggap baik dan tepat apabila mampu memperhatikan dan
menyesuaikan dengan lingkungan dan mampu memperhitungkan situasi-situasi
tertentu.
2.4
Asas-asas atau Prinsip
Organisasi
2.4.1
Asas atau Prinsip Menurut Ahli
Menurut Alford dan Russel:
a. Situation Analysis
(Analisis Situasi).
b. Objectives
(obyektif).
c. Strategy
(strategi).
d. Tactics (taktik).
e. Actions (aksi).
f. Control
(pengawasan).
Menurut Louis
A. Allen :
a. Forecasting yaitu memperkirakan
pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan pada saat yang akan datang yang akan
dilakukan oleh manajer. Kegiatan yang dilakukan oleh manajer ini atas dasar
sistematisasi dan kontinitas pekerjaan serta berdasarkan dimana ia bekerja.
b. Establising objectives yaitu
menentukan tujuan akhir yang akan dicapai dari apa yang telah direncanakan
keseluruhannya baik tujuan tiap pekerjaan maupun tujuan globalnya.
c. Programming yaitu dibuat
suatu program yang terdiri dari serangkaian tindakan kegiatan untuk mencapai
tujuan tertentu berdasarkan pada prioritas pelaksanaan.
d. Sceduling yaitu membuat jadwal
pekerjaan sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
e. Budgeting yaitu penyusunan anggaran
untuk mengalikasikan sumber-sumber yang ada atas dasar efisiensi dan
efektifitas, anggaran belanja ini dinyatakan dalam bentuk uang.
f. Developing prosedur yaitu
menentukan cara yang tepat dalam penyelenggaraan pekerjaan di dalam rangka
adanya efisiensi, efektivitas dan keseragaman pekerjaan.
g. Establising dan interpreting policy
yaitu manajer harus dapat menafsirkan kebijakan yang akan diambil agar
terjamin dalam keselarasan dan keseragaman kegiatan serta tindakan yang akan
dilakukan.
2.4.2
Asas atau
Prinsip Organisasi Secara Umum
1.
Perumusan Tujuan. Tujuan organisasi harus
dirumuskan dengan jelas. Tujuan yang akan memandu setiap orang dalam
organisasi. Semakin jelas tujuan yang akan diraih maka semakin mudah pula
organisasi menentukan langkah yang tepat.
2.
Departementasi. Penyusunan bagian-bagian yang akan
menjalankan tugas-tugas sesuai bidang tertentu. Dapat dilakukan dengan mengelompokkan
tugas-tugas sejenis.
3.
Pembagian kerja. Setelah dilakukan departemetasi perlu
pengisian aktifitas kerja sesuai dengan bidangnya masing-masing Koordinasi.
Koordinasi dimaksudkan untuk mencapai keselarasan dalam organisasi.
4.
Kesatuan perintah. Masing-masing pejabat dalam hirarki
yang berlaku hanya bertanggungjawab kepada satu atasan tertentu dan hanya
menerima perintah darinya.
5.
Fleksibilitas. Organisasi semestinya menyesuaikan diri
dengan lingkungan sekitarnya. Perubahan tersebut antara lain mencakup revisi
tujuan, teknologi, SDM yang spesialis.
6.
Berkesinambungan. Organisasi setelah dibentuk
diharapkan terus beroperasi dan memenuhi kebutuhan stakeholders-nya.
7.
Keseimbangan. Bagian atau satuan dalam organisasi yang
memiliki peran yang sama pentingnya harus ditempatkan pada level yang sama
pula.
8.
Koordinasi. Koordinasi dimaksudkan untuk mencapai
keselarasan dalam organisasi.
9.
Pelimpahan wewenang. Pelimpahan kewenangan dari
pejabat yang lebih tinggi ke pejabat yang lebih rendah atau antar pejabat yang
setara.
10. Rentang
kendali (span of control). Merupakan jumlah bawahan yang dipimpin dengan
baik oleh seorang pemimpin di atasnya.
11. Jenjang organisasi/hiraki.
Menunjukkan adanya tingkatan-tingkatan yang perlu dilewati dalam menentukan
sebuah keputusan.
12. Pemisahan fungsi lini dan staf.
Fungsi lini seharusnya dipisahkan dengan fungsi staff walaupun mereka memiliki
karakter yang mirip. Fungsi lini langsung terhubung dengan kegiatan operasi
sedangkan fungsi staf adalah pelengkap dari fungsi lini. Fungsi ini harus
dikoordinaiskan jika dibutuhkan tetapi secara normal harus dipisahkan.
13. Efisiensi. Struktur organisasi
seharusnya mampu untuk meningkatkan fungsi secara lebih efisien. Untuk itu,
struktur harus sesuai dengan nature, ukuran, aktifvitas, dll dari organisasi.
14. Prinsip pengecualian. Eksekutif pada
level yang level lebih tinggi sibuk dengan hal-hal yang penting dan memiliki
batas waktu untuk mempelajari hal-hal administratif rutin. Masalah yang sangat
rumit dan luar biasa kompleks harus diselesaikan oleh top management dan
masalah rutin harus dihadapi oleh eksekutif yunior pada tingkat yang lebih
rendah. Lebih dari itu, waktu dari top management ditabung. Mereka dapat
mempergunakan waktu mereka untuk menghadapi masalah yang lebih penting dan kompleks.
15. Chain of command. Prinsip dari chain
of command adalah batas kewenangan dari kepala eksekutif kepada atasan level
pertama sudah didefinisikan dengan jelas. Batas kewenangan harus didefinisikan
dengan wajar untuk menghindari kebingungan.
16. Simple/sederhana. Struktur
organisasi harus dibuat sederhana untuk pemahaman yang lebih jelas dari
karyawan. Struktur juga seharusnya lebih mudah untuk diatur. Komunikasi
internal akan lebih mudah jika struktur organisasi lebih sederhana. Struktur
organisasi harus sesederhana mungkin.
2.5 Bentuk-bentuk
Organisasi
a. Bentuk Organisasi Garis (Henry Fayol
(Paris))
Bentuk organisasi yang paling sederhana dan paling tua, digunakan di kalangan
militer dengan jumlah karyawan yang masih sedikit dan saling kenal, dan
spesialisasi kerja yang belum begitu tinggi.
Kelebihan:
·
Kesatuan komando baik karena pimpinan beradadi atas satu tangan.
·
Proses pengambilan keputusan berjalan dengan cepat.
·
Solidaritas karyawan tinggi karena saling kenal.
Kekurangan:
·
Jika sang pemimpin tidak mampu maka akan mudah jatuh
·
Ada kecenderungan bertindak otokratis (berkuasa sendiri secara mutlak)
·
Kesempatan berkemang terbatas
b. Bentuk Organisasi Fungsional (F.W.
Taylor.)
Bentuk ini merupakan
bentuk dimana sebagian atau segelintir pimpinan tidak mempunyai bawahan yang
jelas karena setiap pimpinan berwenang memberikan komando pada bawahannya.
Bentuk ini dikembangkan oleh FW Taylor.
Kelebihan:
· Pembagian tugas-tugas jelas.
· Spesialisasi karyawan dapat
dikembangkan dan digunakan semaksimal mungkin.
· Digunakannya tenaga-tenaga ahli
dalam berbagai bidang sesuai dengan fungsinya.
Kekurangan:
· Karena adanya spesialisasi kerja
maka akan sulit untuk mengadakan tour of duty.
· Karyawan lebih mementingkan
bidangnya sehingga sukar untuk melaksanakan koordinasi.
c. Bentuk organisasi Fungsional dan
Garis
Bentuk organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada
kepala bagian dibawahnya yang mempunyai keahlian tertentu serta sebagian
dilimpahkan kepada pejabat fungsional yang koordinasinya tetap diserahkan
kepada kepala bagian.
d. Bentuk
Organisasi Garis dan Staf (Harrington Emerson)
Biasanya digunakan oleh organisasi besar dengan daerah kerja
yang luas dengan bidang tugas yang beraneka ragam serta rumit. Memiliki satu
atau lebih tenaga staf tenaga ahli yang memberi saran atau nasihat.
Kelebihan:
· Dapat digunakan oleh tenaga
organisasi sebesar apapun dan sekompleks apa pun.
· Keputusan yang matang dan sehat
dapat diperoleh karena adanya tenaga ahli.
· Dapat mewujudkan “The right man in
the right place”.
Kekurangan:
· Solidaritas sukar diwujudkan karena
tidak saling kenal
· Koordinasi antara departemen
atau divisi kadang sukar diterapkan karena terlalu luasnya organisasi
e.
Bentuk
Organisasi Fungsional dan Staf
Merupakan kombinasi organisasi fungsional dan staf, memiliki
kekurangan dan kelebihan seperti halnya organisasi staf dan fungsional.
f.
Bentuk
Organisasi Komite
Bentuk organisasi dimana tugas
kepemimpinan dan tugas tertentu dilaksanakan secara kolektif oleh sekelompok
pejabat, yang berupa komite atau dewan atau board dengan pluralistic manajement
g.
Bentuk
Organisasi Matrix
Organisasi dimana penggunaan
struktur organisasi menunjukkan dimana para spesialis yang mempunyai
keterampilan dimasing-masing bagian dari bagian perusahaan dikumpulkan lagi
menjadi satu untuk mengerjakan suatu proyek yang harus diselesaikan.
2.6 Struktur Organisasi
2.6.1 Definisi Struktur Organisasi
Struktur
Organisasi adalah suatu susunan komponen-komponen (unit kerja) dan hubungan
antara tiap bagian secara posisi yang ada pada perusahaaan dalam menjalin
kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi
menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan, pekerjaan dibagi,
dikelompokkan, dan dikoordinasikan (integrasi) secara formal.
2.6.2
Elemen
Struktur Organisasi
Ada enam elemen kunci yang perlu diperhatikan oleh
para manajer ketika hendak mendesain struktur, antara lain:
a. Spesialisasi pekerjaan.
Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi
ke dalam beberapa pekerjaan tersendiri.
b. Departementalisasi. Dasar yang
dipakai untuk mengelompokkan pekerjaan secara bersama-sama. Departementalisasi
dapat berupa proses, produk, geografi, dan pelanggan.
c. Rantai komando. Garis wewenang yang
tanpa putus yang membentang dari puncak organisasi ke eselon paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung
jawab kepada siapa.
d. Rentang kendali. Jumlah bawahan yang
dapat diarahkan oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.
e. Sentralisasi dan Desentralisasi.
Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat pengambilan keputusan
terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi. Desentralisasi adalah lawan
dari sentralisasi.
f. Formalisasi. Sejauh mana
pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dibakukan.
2.6.3
Desain
Struktur Organisasi yang Umum
a.
Struktur
Sederhana
Struktur sederhana adalah sebuah struktur yang dicirikan dengan
kadar departementalisasi yang rendah, rentang kendali yang luas, wewenang yang
terpusat pada seseorang saja, dan sedikit formalisasi.Struktur sederhana paling
banyak dipraktikkan dalam usaha-usaha kecil di mana manajer dan pemilik adalah orang yang satu dan sama.Kekuatan dari
struktur ini adalah kesederhanaannya yang tercermin dalam kecepatan,
kefleksibelan, ketidakmahalan dalam pengelolaan, dan kejelasan
akuntabilitas.Satu kelemahan utamanya adalah struktur ini sulit untuk
dijalankan di mana pun selain di organisasi kecil karena struktur sederhana menjadi tidak memadai
tatkala sebuah organisasi berkembang karena formalisasinya yang rendah dan
sentralisasinya yang tinggi cenderung menciptakan kelebihan beban (overload)
di puncak.
b.
Birokrasi
Birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi, aturan
dan ketentuan yang sangat formal, tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam
berbagai departemen fungsional, wewenang terpusat, rentang kendali yang sempit,
dan pengambilan keputusan yang mengikuti rantai komando.Kekuatan utama
birokrasi ada kemampuannya menjalankan kegiatan-kegiatan yang terstandar secara
sangat efisien, sedangkan kelemahannya adalah dengan spesialisasi yang
diciptakan bisa menimbulkan konflik-konflik subunit, karena tujuan-tujuan unit
fungsional dapat mengalahkan tujuan keseluruhan organisasi.Kelemahan besar
lainnnya adalah ketika ada kasus yang tidak sesuai sedikit saja dengan aturan,
tidak ada ruang untuk modifikasi karena birokrasi hanya efisien sepanjang
karyawan menghadapi masalah yang sebelumnya telah mereka hadapi dan sudah ada
aturan keputusan terprogram yang mapan.
c.
Struktur
matriks
Struktur
matriks adalah
sebuah struktur yang menciptakan garis wewenang ganda dan menggabungkan
departementalisasi fungsional dan produk.Struktur matriks dapat ditemukan di
agen-agen periklanan, perusahaan pesawat terbang, laboratorium penelitian dan
pengembangan, perusahaan konstruksi, rumah sakit, lembaga-lembaga pemerintah,
universitas, perusahaan konsultan manajemen, dan perusahaan hiburan.
Pada hakikatnya, struktur matriks menggabungkan dua bentuk departementalisasi:
fungsional dan produk Kekuatan departementalisasi fungsional terletak,
misalnya, pada penyatuan para spesialis, yang meminimalkan jumlah yang
diperlukan sembari memungkinkan pengumpulan dan pembagian sumber daya khusus untuk keseluruhan produk. Kelemahan terbesarnya
adalah sulitnya mengoordinasi tugas para spesialis fungsional yang beragam agar
kegiatan mereka rampung tepat waktu dan sesuai anggaran. Departementalisasi
produk, di lain pihak, memiliki keuntungan dan kerugian yang berlawanan.
Karakteristik struktural paling nyata dari matriks adalah bahwa ia mematahkan
konsep kesatuan komando sehingga karyawan dalam struktur matriks memiliki dua
atasan manajer departemen fungsional dan manajer produk.Karena itulah
matriks memiliki rantai komando ganda.
2.6.4
Desain
Struktur Organisasi Modern
a.
Struktur tim
Struktur tim adalah pemanfaatan tim sebagai perangkat sentral untuk
mengoordinasikan kegiatan-kegiatan kerja. Karakteristik utama struktur tim
adalah bahwa struktr ini meniadakan kendala-kendala departemental dan
mendesentralisasi pengambilan keputusan ke tingkat tim kerja. Struktur tim juga
mendorong karyawan untuk menjadi generalis sekaligus spesialis.
b.
Organisasi
virtual
Organisasi virtual adalah organisasi inti kecil yang
menyubkontrakkan fungsi-fungsi utama bisnis secara detail.
c.
Organisasi
Nirbatas
Organisasi nirbatas adalah sebuah organisasi yang berusaha menghapuskan rantai
komando, memiliki rentang kendali tak terbatas, dan mengganti departemen dengan
tim yang diberdayakan.
2.6.5
Model Desain
Struktur Organisasi
a. Model
mekanistis, yaitu sebuah struktur yang dicirikan oleh departementalisasi yang
luas, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang terbatas, dan
sentralisasi.
b. Model organik, yaitu sebuah struktur
yang rata, menggunakan tim lintas hierarki dan lintas fungsi, memiliki
formalisasi yang rendah, memiliki jaringan informasi yang komprehensif, dan
mengandalkan pengambilan keputusan secara partisipatif.
c. Model Piramid, model ini di buat
persis sebuah piramida.
d. Model Horizontal, model ini dibuat
dengan manarik garis lurus secara horizontal dengan pembagian funsional
masing-masing bersama tugasnya masi-masing.
2.6.6
Faktor
Penentu Struktur Organisasi
Sebagian organisasi terstruktur pada garis yang lebih
mekanistis sedangkan sebagian yang lain mengikuti karakteristik organik. Berikut adalah faktor-faktor utama
yang diidentifikasi menjadi penyebab atau penentu struktur suatu organisasi:
a.
Strategi
Struktur organisasi adalah salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk
mencapai sasarannya. Karena sasaran diturunkan dari strategi organisasi secara
keseluruhan, logis kalau strategi dan struktur harus terkait erat. Sebagian
besar kerangka strategi dewasa ini terfokus pada tiga dimensi inovasi,
minimalisasi biaya, dan imitasi dan pada desain struktur yang berfungsi dengan
baik untuk masing-masing dimensi.
Strategi inovasi adalah strategi yang menekankan diperkenalkannya produk dan
jasa baru yang menjadi andalan. Strategi minimalisasi biaya adalah strategi
yang menekankan pengendalian biaya secara ketat, menghindari pengeluaran untuk
inovasi dan pemasaran yang tidak perlu, dan pemotongan
harga. Strategi imitasi adalah strategi yang mencoba masuk ke produk-produk atau
pasar-pasar baru hanya setelah viabilitas terbukti.
b.
Ukuran
organisasi
Terdapat banyak bukti yang mendukung ide bahwa ukuran sebuah organisasi secara
signifikan memengaruhi strukturnya. Sebagai contoh,
organisasi-organisasi besar yang mempekerjakan 2.000 orang atau lebih cenderung
memiliki banyak spesialisasi, departementalisasi, tingkatan vertikal, serta
aturan dan ketentuan daripada organisasi kecil. Namun, hubungan itu tidak
bersifat linier. Alih-alih, ukuran memengaruhi struktur dengan kadar yang semakin menurun. Dampak ukuran menjadi
kurang penting saat organisasi meluas.
c.
Teknologi
Istilah teknologi mengacu pada cara sebuah organisasi
mengubah input menjadi output. Setiap organisasi paling tidak memiliki satu
teknologi untuk mengubah sumber daya finansial, SDM, dan sumber daya fisik menjadi
produk atau jasa.
d.
Lingkungan
Lingkungan sebuah organisasi terbentuk dari lembaga-lembaga atau
kekuatan-kekuatan di luar organisasi yang berpotensi memengaruhi kinerja
organisasi. Kekuatan-kekuatan ini biasanya meliputi pemasok, pelanggan,
pesaing, badan peraturan pemerintah, kelompok-kelompok tekanan publik, dan sebagainya. Struktur
organisasi dipengaruhi oleh lingkungannya karena lingkungan selalu berubah.
Beberapa organisasi menghadapi lingkungan yang relatif statis -tak banyak
kekuatan di lingkungan mereka yang berubah. Misalnya, tidak muncul pesaing
baru, tidak ada terobosan teknologi baru oleh pesaing saat ini, atau tidak
banyak aktivitas dari kelompok-kelompok tekanan publik yang mungkin memengaruhi
organisasi.
2.7 Pola
Organisasi
a.
Organisasi Formal
Organisasi formal adalah kumpulan
dari orang-orang yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan bersama secara
sadar serta dengan hubungan kerja yang rasional. Contoh : Perusahaan, sekolah
dan negara
Bagian-bagian organisasi formal :
1.
Organisasi Lini
Dalam jenis organisasi ini,
pembagian tugas dan wewenang terdapat perbedaan yang tegas antara pimpinan dan
pelaksanaan. Peran pimpinan dalam hal ini sangat dominan dimana semua kekuasaan
di tangan pimpinan. Oleh sebab itu dalam pelaksanaan kegiatan yang utama adalah
wewenang dan perintah. Memang bentuk organisasi semacam ini,
khususnya didalam institusi-institusi yang kecil sangat efektif karena
keputusan-keputusan cepat diambil dan pelaksanaan keputusan juga cepat.
Kelemahannya jenis organisasi semacam ini kurang manusiawi, lebih-lebih para
pelaksana tugas bawahan hanya dipandang sebagai robot yang senantiasa siap
melaksanakan perintah.
2.
Organisasi Staf
Dalam organisasi ini, tidak begitu
tegas garis pemisah antara pimpinan dan staf pelaksana. Peran staf bukan
sekedar pelaksana perintah pimpinan namun staf berperan sebagai pembantu
pimpinan. Bentuk organisasi semacam ini muncul karena makin kompleksnya masalah-masalah
organisasi sehingga pimpinan sudah tidak dapat lagi menyelesaikan semuanya dan
memerlukan bantuan orang lain (biasanya para ahli) yang dapat memberikan
masukan pemikiran-pemikiran terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Meskipun
organisasi ini lebih baik dari yang pertama karena keputusan-keputusan dapat
lebih baik namun kadang-kadang keputusan-keputusan tersebut akan memakan waktu
yang lama karena melalui perdebatan-perdebatan yang kadang-kadang
melelahkan.
3.
Organisasi Lini dan Staf
Organisasi ini merupakan gabungan
kedua jenis organisasi yang terdahulu disebutkan (line dan staf). Dalam
organisasi ini staf bukan sekedar pelaksana tugas tetapi juga diberikan
wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Demikian
juga pimpinan tidak sekedar memberikan perintah atau nasehat tetapi juga
bertanggung jawab atas perintah atau nasehat tersebut. Keuntungan
organisasi ini antara lain ialah keputusan yang diambil oleh pimpinan lebih
baik karena telah dipikirkan oleh sejumlah orang dan tanggung jawab pimpinan
berkurang karena mendapat dukungan dan bantuan dari staf. Dalam kehidupan
sehari-hari apabila unit kerja (departemen, perusahaan dan sebagainya) akan
melaksanakan suatu rencana tidak selalu langsung diikuti oleh penyusunan
organisasi baru. Struktur organisasi itu biasanya sudah ada terlebih dahulu dan
ini relatif cenderung permanen, lebih-lebih struktur organisasi
departemen. Disamping itu unit-unit kerja tersebut dijabarkan
kedalam unit-unit yang lebih kecil dan masing-masing unit-unit kerja yang lebih
kecil ini mempunyai tugas dan wewenang yang berbeda-beda (dirjen, direktorat,
bidang, seksi, devisi, dan sebagainya). Untuk pelaksanaan rencana rutin cukup
oleh staf yang ada sehingga tidak perlu menyusun organisasi baru.
b.
Organisasi Informal
Organisasi informal adalah
kumpulan dari orang-orang yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan
bersama yang tidak disadari. Contoh : RT dan arisan.
2.8 Proses atau Langkah-langkah
Pengorganisasian
Menurut Stoner (1996) langkah-langkah dalam proses pengorganisasian terdiri
dari lima langkah:
a.
Merinci
seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi
b. Membagi beban kerja ke dalam
kegiatan-kegiatan yang secara logis dan memadai dapat dilakukan oleh seseorang
atau oleh sekelompok orang.
c. Mengkombinasi pekerjaan anggota
perusahaan dengan cara yang logis dan efisien
d. Penetapan mekanisme untuk
mengkoordinasi pekerjaan anggota organisasi dalam satu kesatuan yang harmonis
e. Memantau efektivitas organisasi dan
mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan atau meningkatkan
efektivitas.
2.9 Perilaku Organisasi
2.9.1 Definisi Perilaku Organisasi
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang
perilaku tingkat individu dan tingkat kelompok dalam suatu organisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual,
kelompok, maupun organisasi). Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi
tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang
mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode
dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi.
2.9.2 Kepribadian Utama yang Mempengaruhi
Perilaku Organisasi
2.9.2.1 Menurut
Ahli
a.
Menurut
Duncan (Thoha, 2005), perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyangkut
aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu organisasi atau suatu kelompok
tertentu.
b.
Menurut
Davis dan Newstorm (1985), ada empat model perilaku organisasi yang menunjukkan
evolusi pemikiran dan perilaku pada bagian manajemen dan manajer. Empat model
atau kerangka kerja organisasi adalah:
1. Otokratis – Dasar dari model ini
adalah kekuatan dengan orientasi manajerial otoritas. Para karyawan pada
gilirannya berorientasi terhadap ketaatan dan ketergantungan pada bos.
Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah subsisten. Hasil kinerja minimal.
2. Kustodian – Dasar dari model ini
adalah sumber daya ekonomi dengan orientasi manajerial uang. Para karyawan pada
gilirannya berorientasi pada keamanan dan manfaat dan ketergantungan pada
organisasi. Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah keamanan. Hasil kinerja
adalah kerjasama pasif.
3. Mendukung – Dasar dari model ini
adalah kepemimpinan dengan orientasi manajerial dukungan. Para karyawan pada
gilirannya berorientasi terhadap prestasi kerja dan partisipasi. Kebutuhan
karyawan yang terpenuhi adalah status dan pengakuan. Hasil kinerja terbangun
drive.
4. Kolegial – Dasar dari model ini
adalah kemitraan dengan orientasi manajerial kerja sama tim. Para karyawan pada
gilirannya berorientasi ke arah perilaku yang bertanggung jawab dan disiplin
diri.
2.9.2.2 Secara Umum
a. Evaluasi inti diri
Evaluasi
inti diri adalah tingkat di mana individu menyukai atau tidak menyukai diri
mereka sendiri, apakah mereka menganggap diri mereka cakap dan efektif, dan
apakah mereka merasa memegang kendali atau tidak berdaya atas (lingkungan)
mereka. Evaluasi inti diri seorang individu ditentukan oleh dua elemen
utama: harga diri dan lokus kendali. Harga
diri didefinisikan sebagai tingkat menyukai diri sendiri dan tingkat sampai
mana individu menganggap diri mereka berharga atau tidak berharga sebagai
seorang manusia.
b. Machiavellianisme
Machiavellianisme
adalah tingkat di mana seorang individu pragmatis, mempertahankan jarak
emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting daripada proses. Karakteristik
kepribadian Machiavellianisme berasal dari nama Niccolo Machiavelli, penulis
pada abad keenam belas yang menulis tentang cara mendapatkan dan menggunakan
kekuasaan.
c. Narsisisme
Narsisisme adalah kecenderungan menjadi
arogan, mempunyai rasa kepentingan diri yang berlebihan, membutuhkan pengakuan
berlebih, dan mengutamakan diri sendiri. Sebuah penelitian mengungkap bahwa
ketika individu narsisis berpikir mereka adalah pemimpin yang lebih baik bila
dibandingkan dengan rekan-rekan mereka, atasan mereka sebenarnya menilai mereka
sebagai pemimpin yang lebih buruk. Individu narsisis seringkali ingin
mendapatkan pengakuan dari individu lain dan penguatan atas keunggulan mereka
sehingga individu narsisis cenderung memandang rendah dnegan berbicara kasar
kepada individu yang mengancam mereka.Individu narsisis juga cenderung egoisdan eksploitif, dan acap kali
memanfaatkan sikap yang dimiliki individu lain untuk keuntungannya.
d. Pemantauan diri
Pemantauan
diri adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan faktor
situasional eksternal. Individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi
menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menyesuaikan perilaku dengan
faktor-faktor situasional eksternal. Bukti menunjukkan bahwa individu dengan
tingkat pemantauan diri yang tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku
individu lain dan pandai menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan individu
yang memiliki tingkat pemantauan diri yang rendah.
e. Kepribadian tipe A
Kepribadian
tipe A adalah keterlibatan secara agresif dalam perjuangan terus-menerus untuk
mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan melawan upaya-upaya
yang menentang dari orang atau hal lain. Dalam kultur Amerika Utara,
karakteristik ini cenderung dihargai dan dikaitkan secara positif dengan ambisi
dan perolehan barang-barang material yang berhasil. Karakteristik tipe A
adalah:
1. Selalu bergerak, berjalan, dan makan
cepat
2. Merasa tidak sabaran
3. Berusaha keras untuk melakukan atau
memikirkan dua hal pada saat yang bersamaan
4. Tidak dapat menikmati waktu luang
5. Terobsesi dengan angka-angka,
mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang bisa mereka peroleh.
f.
Kepribadian
proaktif
Kepribadian
proaktif adalah sikap yang cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak,
dan tekun hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Pribadi proaktif
menciptakan perubahan positif daalam lingkungan tanpa memedulikan batasan atau
halangan.
2.10
Fungsi Pengorganisasian
Fungsi Pengorganisasian adalah proses yang menyangkut bagaimana strategi dan
taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan desain dalam sebuah struktur
organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang
kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja
secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.
2.10.1
Kegiatan
dalam Fungsi Pengorganisasian yaitu:
a.
Mengalokasikan
sunber daya,merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang
diperlukan.
b.
Menetapkan
struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggung
jawab.
c.
Kegiatan
perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengambangan sunber daya manusia/tenaga
kerja.
d.
Kegiatan
penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat.
2.10.2
Fungsi
Tujuan Organisasi
a. Patokan bagi kegiatan-kegiatan yang
ada dalam organisasi.
Melalui penggambaran hasil-hasil di waktu yang akan datang.
Fungsi tujuan memberikan arah dan pemusatan kegiatan organisasi mengenai apa
yang harus dan tidak harus dilakukan.
b. Sumber Legitimasi
Dengan meningkatkan kemampuan kegiatan-kegiatan yang
dilakukan,berguna untuk meningkatkan kemampuan organisasi untuk
mendapatkansumber daya dan dukungan dari lingkungan di sekitarnya.
c. Standar pelaksanaan
Jika tujuan dinyatakan secara jelas dan dipahami, akan
memberikan standar langsung bagi penilaian pelaksanaan kegiatan organisasi.
Setelah organisasi menetapkan tujuan dalam bidang yang dapat dikuantifikasikan.
d. Sumber Motivasi
Untuk
mendorong anggota lainnya dalam melaksanakan tugas, misalnya dengan memberikan
intensif bagi anggota yang melaksanakan tugasnya dengan baik, menghasilkan
produk di atas standar dan lain sebagainya yang akhirnya dapat mendorong para
anggota lainnya.
e. Dasar Rasional Pengorganisasian
Tujuan
organisasi merupakan suatu dasar perancangan organisasi yang saling
berinteraksi dalam kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan.
2.11
Tujuan Pengorganisasian
Tujuan pengorganisasian adalah agar
dalam pembagian tugas dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dengan pembagian tugas
diharapkan setiap anggota organisasi dapat meningkatkan keterampilannya secara
khusus (spesialisasi) dalam menangani tugas-tugas yang dibebankan. Apabila
pengorganisasian itu dilakukan secara serampangan, tidak sesuai dengan bidang
keahlian seseorang, maka tidak mustahil dapat menimbulkan kegagalan dalam
penyelenggaraan pekerjaan itu.
Tujuan organisasi harus dirumuskan dan ditetapkan dengan
jelas. Hal ini penting karena:
a.
Tanpa tujuan
yang jelas maka organisasi tidak akan mempunyai arah.
b.
Tanpa tujuan
yang jelas, organisasi tidak ada artinya dan hanya akan menimbulkan pemborosan.
c.
Tujuan yang
jelas akan mempermudah dalam menentukan bentuk dan struktur organisasi.
d.
Tujuan yang
jelas akan mempermudah dalam menentukan jumlah dan penempatan pegawai.
e.
Tujuan yang
jelas akan memberikan perangsang kerja pada para anggota organisasi.
f.
Tujuan yang
jelas akan mempermudah pelaksanaan koordinasi, karena mereka menyadari bahwa
semua anggota organisasi bekerja ketujuan yang sama, yaitu tujuan organisasi.
g.
Tujuan yang
jelas merupakan awal dari penetapan strategi. Siasat, metode, dan prosedur yang
akan dipergunakan.
h.
Tujuan yang
jelas merupakan dasar dari pada organisasi untuk bergerak.
Dalam menetapkan tujuan organisasi
hendaknya hal-hal berikut diperhatikan:
a.
Tujuan haarus
selalu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perkembangan keadaan dan
perkembangan organisasi.
b.
Tujuan
organisasi harus dapat dimengerti dan dipahami oleh setiap anggota, dan
dicamkan benar-benar, sedalam-dalamnya dalam jiwa mereka.
Tujuan utama dalam organisasi :
a.
Tujuan utama
atau yang disebut juga tujuan pokok atau tunggal yang menyebab kan timbulnya
organisasi dan yang menjadi dasar dibentuknya organisasi. Menurut jenis
organisasi yang didirikan, tujuan utama atau tujuan pokok dapat dibedakan
menjadi beberapa macam, misalnya tujuan mendapat keuntungan, tujuan untuk
memberikan kesejahteraan bagi para angora, dan tujuan untuk memberikan
kesejahteraan masyarakat dalam pemberian pelayanan kepentingan umum, misalnya:
telekomunikasi (dalam bidang komunikasi), Bank Tabungan Negara (persero) (dalam
bidang penyediaan kredit perumahan rakyat), Perusahaan Air minum (dalam
penyediaan air bersih).
b.
Jangka Panjang: merupakan tujuan akhir yang hendak
dicapai oleh suatu organisasi. Kadang-kadang tujuan akhir merupakan tujuan
abstrak karena kurang jelas. Misalnya tujuan masyarakat adil dan makmur. Tujuan
jangka panjang dapat pula diukur dengan jangka waktu yang dipergunakan untuk
mencapai tujuan akhir, misalnya waktu 25 tahun sampai dengan 30 tahun.
c.
Tujuan Organisasi dan Tujuan Pribadi: Tujuan organisasi adalah tujuan yang
telah ditentukan dalam konsep tujuan organisasi oleh organisasi yang
bersangkutan. Tujuan pribadi merupakan tujuan setiap individu yang ada dalam organisasi. Pada dasarnya setiap individu yang
ada dalam organisasi sudah mempunyai konsep tentang tujuan pribadi. Antara
tujuan pribadi dan tujuan organisasi harus ada kesesuaian sehingga akan
memperoleh manfaat timbal balik.
Ada beberapa tujuan pengorganisasian, yaitu:
a.
Membantu koordinasi, yaitu memberi
tugas pekerjaan kepada unit kerja secara koordinatif agar tujuan organisasi
dapat melaksanakan dengan mudah dan efektif. Koordinasai dibutuhkan tatkala
harus membagi unitkerja yang terpisah dan tidak sejenis, tetapi berada dalam
satu organisasi.
b.
Memperlancar pengawasan, yaitu dapat
membantu pengawasan dengan menempatkan seorang anggota manajer yang
berkompetensi dalam setiap unit organisasi. Dengan demikian sebuah unit dapat
ditempatkan di dalam organisasi secara keseluruhan sedemikian rupa agar dapat
mencapai sasaran kerjanya walaupun dengan lokasi yang tidak sama.
c.
Maksimalisasi
manfaat spesialisasi, yaitu dengan konsentrasi kegiatan, maka dapat membantu
seorang menjadi lebih ahli dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu.
d.
Memberikan kepuasan dan memperoleh
kepercayaan masyarakat pengguna.
e.
Penghematan biaya, artinya dengan
pengorganisasian, maka akan tumbuh pertimbangan yang berkaitan dengan
efisiensi. Dengan demikian pelaku organisasi akan selalu berhati-hati dalam
setiap akan menambah unit kerja baru yang notabene menyangkut penambahan tenaga
kerja yang relatif banyak membutuhkan biaya tambahan berupa gaji/upah.
Penambahan unit kerja sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan nilai sumbangan
pekerja baru dengan tujuan untuk menekan upah buruh yang berlebihan.
f.
Meningkatkan kerukunan hubungan
antar manusia, dengan pengorganisasian, maka masing-masing pekerja antar unit
kerja dapat bekerja saling melengkapi, mengurangi kejenuhan, menumbuhkan rasa
saling membutuhkan, mengurangi pendekatan materialistis.
2.12
Manfaat Organisasi
Beberapa manfaat organisasi yaitu:
a.
Organisasi
sebagai penuntun pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan akan lebih efektif dengan
adanya organisasi yang baik.
b.
Organisasi
dapat mengubah kehidupan masyarakat. Contoh dari manfaat ini ialah, jika
organisasi bergerak di bidang kesehatan dapat membentuk masyarakat menjadi dan
memiliki pola hidup sehat. Organisasi Kepramukaan, akan menciptakan generasi
mudah yang tangguh dan ksatria.
c.
Organisasi
menawarkan karier. Karier berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan. Jika
kita menginginkan karier untuk kemajuan hidup, berorganisasi dapat menjadi
solusi.
d.
Organisasi
sebagai cagar ilmu pengetahuan. Organisasi selalu berkembang seiring dengn
munculnya fenomena-fenomena organisasi tertentu.
Pengorganisasian
bermanfaat untuk hal-hal berikut :
a.
Memungkinkan
pembagian tugas sesuai dengan keadaan perusahaan.
b.
Mengakibatkan
adanya spesialisasi dalam melaksanakan tugas.
c. Anggota
organisasi mengetahui tugas-tugas yang akan dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dari uraian makalah di atas dapat
disimpulkan bahwa sangat penting Pengorganisasian (organizing) dalam manajemen.
Karena merupakan fungsi dari manajemen yang pasti ada dan sangat dibutuhkan
maka peran pengorganisasian sangat penting dan sangat menentukan langkah
selanjutnya dalam manajemen. Pengertian organisasi dapat diartikan menjadi dua
artian yaitu, dalam arti dinamis disebut pengorganisasian dan dalam arti statis
disebut .
Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu ada orang, ada
kerjasama, dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri
sendiri-sendiri, akan tetapi saling kait atau saling berhubungan sehingga
merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Dalam pengorganisasian terdapat 9 macam teori organisasi yaitu teori organisasi
klasik, teori organisasi birokrasi, teori organisasi human relations, teori
organisasi perilaku, teori proses, teori organisasi kepemimpinan, teori
organisasi fungsi, teori organisasi pembuatan keputusan dan teori organisasi
kontingensi. Dari semua teori ini, tidak satu teori pun yang dianggap paling
lengkap atau paling sempurna, teori-teori itu satu sama lain saling mengisi dan
saling melengkapi. Teori dianggap baik dan tepat apabila mampu memperhatikan
dan menyesuaikan dengan lingkungan dan mampu memperhitungkan situasi-situasi
tertentu.
Sub bab lain yang terdapat dalam
Pengorganisasian yakni, asas atau prinsip, bentuk, sruktur, pola, langkah atau
proses, perilaku, fungsi, tujuan, dan manfaat juga mempengaruhi baik atau
tidaknya, berhasil tidaknya pengorganisasian maupun manajemen yang
menjalankannya.
3.2
Saran
Mengingat pentingnya pengorganisasian maka perlu kiranya
masalah ini diperhatikan dan dipahami sebaik-baiknya. Setelah mamahami
pengorganisasian maka sebaiknya diterapkan dalam bentuk actual di lapangan. Dan
untuk para pemimpin sebaiknya harus mengetahui semua hal yang menyangkut
tentang organisasi baik secara individu maupun kelompok.
Agar suatu organisasi berhasil para anggota harus saling bekerjasama dengan
baik dan menjaga kebersamaan agar apabila terjadi masalah dapat diselesaikan
dengan baik-baik tanpa jarus mengganggu proses organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Soetopo, Hendiyat dan Soemanto, Wasty. 1982. Pengantar
Operasional Administrasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Saud, Udin Syaefudin. 2005. Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kadarman, A.M. et.al. 1996. Pengantar Ilmu Manajemen. Jakarta, Gramedia.
Sutisna, Oteng. 1985. Administrasi Pendidikan. Bandung: Angkasa.
Saud, Udin Syaefudin. 2005. Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kadarman, A.M. et.al. 1996. Pengantar Ilmu Manajemen. Jakarta, Gramedia.
Sutisna, Oteng. 1985. Administrasi Pendidikan. Bandung: Angkasa.
Handoko, T. Hani (2003), Manajemen. Edisi
Kedua. Cetakan Kedelapanbelas. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar